Menuju Sampah

Aku baru tahu tentang acara Tujuh Hari Menuju Tobat yang ditayangkan Lativi setelah membaca artikel diblog mediacare ini. Aku sendiri belum pernah menonton acaranya, tapi menyimak deskripsi dan pertukaran email antara seorang pemirsa dan production-house pembuat acara itu, aku tahu itu acara sangat buruk yang dibuat oleh orang bodoh dan yang membutuhkan tobat adalah mereka yang membuat acara itu.

Berikut kutipan email dari Agustinus Kutel untuk Pidi Project, PH yang membuat acara itu.

Salah satu episode acara itu menayangkan tentang tim THMT yang mencoba mempertobatkan seorang perempuan yang disebut mereka lesbian.

Di sebuah ladang yang gelap, perempuan itu dimasukkan ke dalam kerangkeng yang digantungkan di pohon. Di bawah kerangkeng terdapat kobaran api. Tiga orang
berkedok membawa obor. Ada kata-kata, “Apakah Anda mau bertobat karena telah menyalahi kodrat?”

Perempuan itu menangis. Berteriak-teriak. Memanggil nama ibunya (bukan Allah). Dan kerangkeng itu dinaik turunkan talinya. Saya menangis melihat adegan itu.

Tak cukup sampai di situ. Perempuan itu pun dimasukkan ke dalam kurung batang (keranda). Didandani seperti mayat dan dibalut kain kafan. Di sekeliling keranda
ada kobaran api. Perempuan itu menangis menyebut nama Ibu.

Apapun pilihan hidup seseorang, termasuk preferensi seks bukanlah urusan orang lain, selama tidak mengganggu orang lain. Ok, kata ‘mengganggu’ bisa saja dipelintir, tapi buatku 2 orang berjenis kelamin sama bergumul-jungkir balik diproperti pribadinya dan tidak terlihat olehku tidak masuk dalam kategori mengganggu. Lagipula siapa yang memberi hak untuk seseorang menghukum (dan bahkan menganiaya) orang lain dengan caranya sendiri dinegara hukum seperti Indonesia? Sekali lagi kata ‘menghukum’ bisa Anda pelintir, tapi yang mereka lakukan penganiayaan fisik dan psikis.

Oh, kamu mungkin ingin ikut berpartisipasi dalam petisi menentang aksi kekerasan melanggar hukum yang kerap dilakukan oleh FPI (link).

Advertisements

Ego Yang Maha Kuasa (Lagi)

Aku tadi baca ini di blog Credo, laporan dari Kaltim Post edisi Kamis, 20 Februari 2003 – 4 tahun lalu. Anggota DPRD Kaltim bahkan tidak tahu apa email itu, namun masih bisa menjawab berdasarkan ‘kebijaksanaannya’. Ada yang mengatakan tidak memakai email karena lebih suka memakai produk dalam negeri (daun lontar?), bahkan ada yang mengaku sudah menjualnya (!?)
Lucu, ironis dan dalam waktu yang sama mengkhawatirkan.
Aku tidak tahu berapa orang yang masih menjabat dari peride itu sekarang, karena  mereka sudah dapat laptop – dan seharusnya mereka sudah lebih mengerti tentang teknologi informasi. Atau tidak ?
Tidak, karena tidak mengerti penggunaan laptop mereka memberikannya ke stafnya. Logika anggota legislatif berada diawang-awang, dengan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat yang masih buruk mereka lebih suka bersibuk diri dengan pengadaan laptop. Meningkatkan produktifitas? BS !
Setelah DPR membatalkan pengadaan laptop (diganti dengan PDA pak?), koleganya didaerah jalan terus. Setelah DPRD Kaltim, anggota DPRD Banten juga akan mendapatkan laptop mereka, DPRD Situbondo, Jember dan Banyungawi menyusul . Bahkan DPRD Padang yang konstituennya masih berduka karena gempa juga meminta pengadaan laptop.
Aku pikir kita semua setuju agar mereka lebih pintar dan bisa menggunakan teknologi, tapi apakah pengadaan laptop seperti ini harus memakai uang rakyat yang tengah sekarat? Lebih spesifik, apakah laptop dengan Core 2 diperlukan untuk menyusun pidato atau mencatat agenda kegiatan? Ego?

Entri sebelumnya :

Laptop Untuk Yang Merasa Terhormat

Laptop untuk anggota DPR (link) :
a. menghilangkan kantuk selama sidang paripurna dengan main solitaire
b. mudah-mudahan dengan kamera terintegrasi, memudahkan produksi dan distribusi video kegiatan anggota DPR, agar lebih dikenal konstituen, ‘luar-dalam’
c. merencanakan jadwal studi banding
d. membuat blog tentang perjalanan studi banding
dan lainnya yang akan meningkatkan produktivitas mereka. Lagi pula mereka perlu prosesor dan memory untuk membantu kekurangan mereka (dalam hal itu).

Poligami

Aku pikir konsep poligami benar-benar merendahkan perempuan. Menurutku tiap orang yang setuju dengan konsep poligami harusnya juga tidak keberatan dengan poliandri. Tapi kenyataannya tidak begitu, kesetaraan hanya kosmetik buat ego – ego yang maha kuasa …
Say NO to poligami lah …

Dari Tempo : Selingkuh dan Poligami Picu Kekerasan di NTB

Masih 2 Tahun Lagi Bu!

Megawati Sukarnoputri meminta masyarakat tetap sabar menghadapi cobaan yang mendera belakangan ini dan berpesan untuk tidak salah memilih pemimpin dalam Pemilu 2009 agar tidak menyesal dikemudian hari.

/sarkasm
“Itulah kalau presidennya bukan wanita … “, iya kan Bu Mega?
😉
/sarkasm

Bukan Saya, Dia !!!

Ternyata ada yang masih yang punya rasa malu.
I Nyoman Patra, anggota DPRD Kab. Gianyar, Bali mengundukan diri karena malu atas aksi Adkasi menuntut agar PP 37/2006 tidak direvisi.
Sekarang ngeles in action, siapa yang salah dalam kasus ini?


Mudah-mudahan tidak ada yang marah saya edit gambar ini. Katanya sudah dalam ranah public domain.

Entri sebelumnya :

Kecewa Dibalik SMS?

Dari Media Indonesia Online, SMS ajakan menjarah pusat perbelanjaan selama banjir melanda Jakarta 2 minggu lalu yang dikirim oleh Ketua DPP Banteng Muda Indonesia, Iwan Samule – dilatar belakangi kekecewaan atas lambatnya penanganan korban banjir. Setidaknya begitu menurut Wakil Bidang Hukum BMI, Sandy.

“Ini adalah bentuk kerisauan Iwan karena pemerintah tidak memiliki infrastruktur untuk penanggulangan banjir,” katanya.

Saya tidak bisa menemukan logika yang bisa diterima disini. Seseorang risau, kecewa terhadap pemerintah, mengirimkan ajakan berbuat kriminal – SECARA EKSPLISIT dan kemudian mereka berharap tidak ditindak pidana. Apa yang kita lupakan disini?

/sarkasme

Owh … saya tahu sekarang. Kita anggap saja sms itu sebenarnya  bahan bercanda, dan Bapak Iwan baru sadar dia kehabisan pulsa untuk mengirimkan sms klarifikasi.