IPDN

Face Transformer

Ingin tahu bagaimana kira-kira wajahmu setelah berumur 50-an tahun? Coba Face Transformer ini.
Upload foto, pilih jenis kelamin, ras dan kisaran umur orang dalam foto tersebut. Upload keserver, dan render ulang foto tersebut dalam jenis kelamin, ras dan umur yang berbeda. Tool ini dibuat oleh Bernard Tiddeman dari University of St Andrews.
Menarik juga. Sayang algoritmanya tidak bisa mengenali kumis Hitler 😀
Gambar dibawah ini adalah render ulang wajah bayi Hitler, lengkap dengan kumis.

Menuju Sampah

Aku baru tahu tentang acara Tujuh Hari Menuju Tobat yang ditayangkan Lativi setelah membaca artikel diblog mediacare ini. Aku sendiri belum pernah menonton acaranya, tapi menyimak deskripsi dan pertukaran email antara seorang pemirsa dan production-house pembuat acara itu, aku tahu itu acara sangat buruk yang dibuat oleh orang bodoh dan yang membutuhkan tobat adalah mereka yang membuat acara itu.

Berikut kutipan email dari Agustinus Kutel untuk Pidi Project, PH yang membuat acara itu.

Salah satu episode acara itu menayangkan tentang tim THMT yang mencoba mempertobatkan seorang perempuan yang disebut mereka lesbian.

Di sebuah ladang yang gelap, perempuan itu dimasukkan ke dalam kerangkeng yang digantungkan di pohon. Di bawah kerangkeng terdapat kobaran api. Tiga orang
berkedok membawa obor. Ada kata-kata, “Apakah Anda mau bertobat karena telah menyalahi kodrat?”

Perempuan itu menangis. Berteriak-teriak. Memanggil nama ibunya (bukan Allah). Dan kerangkeng itu dinaik turunkan talinya. Saya menangis melihat adegan itu.

Tak cukup sampai di situ. Perempuan itu pun dimasukkan ke dalam kurung batang (keranda). Didandani seperti mayat dan dibalut kain kafan. Di sekeliling keranda
ada kobaran api. Perempuan itu menangis menyebut nama Ibu.

Apapun pilihan hidup seseorang, termasuk preferensi seks bukanlah urusan orang lain, selama tidak mengganggu orang lain. Ok, kata ‘mengganggu’ bisa saja dipelintir, tapi buatku 2 orang berjenis kelamin sama bergumul-jungkir balik diproperti pribadinya dan tidak terlihat olehku tidak masuk dalam kategori mengganggu. Lagipula siapa yang memberi hak untuk seseorang menghukum (dan bahkan menganiaya) orang lain dengan caranya sendiri dinegara hukum seperti Indonesia? Sekali lagi kata ‘menghukum’ bisa Anda pelintir, tapi yang mereka lakukan penganiayaan fisik dan psikis.

Oh, kamu mungkin ingin ikut berpartisipasi dalam petisi menentang aksi kekerasan melanggar hukum yang kerap dilakukan oleh FPI (link).

Tentang Aura

Aura adalah medan berwarna yang melingkupi permukaan suatu obyek yang menggambarkan energi kehidupan obyek tersebut, menurut paranormal, parapsikologis dan spiritualis. Jangan dicampur adukkan dengan aura halo (fenomena optik karena matahari).
Saya tidak melihat hal ini memicu perdebatan di Indonesia, mungkin karena mayoritas masyarakat menerima konsep ini dan atau tidak perduli. Saya sendiri masih skeptis apakah aura benar menggambarkan energi kehidupan sepert klaim paranormal dan spiritualis yang sering kita lihat di tv.
Sedikit latar belakang, para pakar yang mengaku mengerti masalah ini mengatakan bahwa aura adalah representasi energi kehidupan seseorang. Warna tertentu adalah indikasi kondisi energi kehidupan obyek tersebut. Ada juga yang mencoba menghubungkannya dengan sains, dengan mengatakan bahwa aura adalah medan elektromagnetis yang dihasilkan obyek.
Dalam keadaan normal, kita – ‘manusia biasa’ tidak bisa melihat aura. Konon hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kemampuan supranatural yang bisa melihatnya, orang indigo misalnya. Tapi ada cara lain untuk melihatnya, dengan kamera Kirlian. Pada tahun 1939 Semyon Kirlian menemukan bahwa jika suatu obyek difoto didalam medan listrik, area berwarna akan terlihat mengelilinginya (CMIIW). Hal ini dibawa kekonteks metafisik, bahwa area itu adalah representasi energi kehidupan.
Foto aura (disebut juga foto Kirlian), penyembuhan dengan cara aura dan bisnis lain sejenis itu marak. Bahkan metode analisis kondisi kesehatan dengan foto aura juga mulai diadaptasi dunia medis di Indonesia (saya lupa nama dokter yang berbicara tentang aura disalah satu stasiun tv swasta).  Apakah benar area berwarna itu representasi energi kehidupan? Atau cuma delusi? Reaksi kimia dan metode fotografi tentu bisa menghasilkan gambar yang ‘berbeda’, tidak perlu menginterpretasinya sebagai sesuatu yang supranatural. Dan ya, gangguan kesehatan tertentu bisa membuat seseorang melihat area berwarna ini, migrain, epilepsi, gangguan indera penglihatan atau kelainan otak.
Divideo dibawah ini, James Randi menguji klaim ahli aura dari Barkley Psychics Institute bahwa dia bisa melihat aura dari orang-orang yang berdiri dibalik sekat. Hanya 2 dari 5 ‘tebakannya’ yang benar. Nilai yang buruk jika dia benar bisa mengenali orang dari aura.

Edit:
Uji terhadap ahli aura lain juga dilakukan James Randi, dan seperti diduga – teruji gagal membuktikan kemampuannya.

Discontent

Discontent is the first necessity of progress.
-Thomas A. Edison

His Marketing Efforts Will Dominate Your Face

Internet history in the making.
Seorang scammer lain dipergoki (dan dikeroyok) komunitas internet. Baca sekarang, beritanya masih baru. Tidak ada berita yang seseru ini setelah goatse dan Nigerian scam 😀

My face is dominated now, for sure. LOL

Ego Yang Maha Kuasa (Lagi)

Aku tadi baca ini di blog Credo, laporan dari Kaltim Post edisi Kamis, 20 Februari 2003 – 4 tahun lalu. Anggota DPRD Kaltim bahkan tidak tahu apa email itu, namun masih bisa menjawab berdasarkan ‘kebijaksanaannya’. Ada yang mengatakan tidak memakai email karena lebih suka memakai produk dalam negeri (daun lontar?), bahkan ada yang mengaku sudah menjualnya (!?)
Lucu, ironis dan dalam waktu yang sama mengkhawatirkan.
Aku tidak tahu berapa orang yang masih menjabat dari peride itu sekarang, karena  mereka sudah dapat laptop – dan seharusnya mereka sudah lebih mengerti tentang teknologi informasi. Atau tidak ?
Tidak, karena tidak mengerti penggunaan laptop mereka memberikannya ke stafnya. Logika anggota legislatif berada diawang-awang, dengan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat yang masih buruk mereka lebih suka bersibuk diri dengan pengadaan laptop. Meningkatkan produktifitas? BS !
Setelah DPR membatalkan pengadaan laptop (diganti dengan PDA pak?), koleganya didaerah jalan terus. Setelah DPRD Kaltim, anggota DPRD Banten juga akan mendapatkan laptop mereka, DPRD Situbondo, Jember dan Banyungawi menyusul . Bahkan DPRD Padang yang konstituennya masih berduka karena gempa juga meminta pengadaan laptop.
Aku pikir kita semua setuju agar mereka lebih pintar dan bisa menggunakan teknologi, tapi apakah pengadaan laptop seperti ini harus memakai uang rakyat yang tengah sekarat? Lebih spesifik, apakah laptop dengan Core 2 diperlukan untuk menyusun pidato atau mencatat agenda kegiatan? Ego?

Entri sebelumnya :